Sabtu, 09 Juli 2016

[Resensi Novel] Keluarga Tak Kasat Mata

Judul : Keluarga Tak Kasat Mata
Penulis : Bonaventura Genta
Penerbit : Gagas Media
Tahun Terbit : 2016
ISBN : 978-979-780-803-7


Genta seorang cowok yang bekerja paruh waktu di sebuah perusahaan di Yogya. Suatu hari, perusahaannya pindah ke gedung baru. Di sanalah Genta mengalami banyak hal di luar nalar. Bukan hanya dia, melainkan semua yang bekerja di sana pernah mengalami hal yang sama.

Gangguan-gangguan yang berasal dari 'mereka' membuat Genta dan kawan-kawan selalu memasang sikap waspada, adrenalin tak pernah berhenti selama mereka semua berada di dalam kantor. Munculnya sosok-sosok tak biasa ini membuat para pekerja mulai terbiasa akan kehadiran 'keluarga' lain yang menempati gedung itu.

Teror itu tak pernah berhenti. 'Mereka' selalu menunjukkan eksistensinya. Menebar kejahilan dimana-mana. Tak hanya di kantor, dalam perjalanan pulang pun Genta sering mengalami kejadian-kejadian yang tak masuk di nalar.

Namun, berkat semua keganjilan yang menimpanya, Genta mendapat kesempatan untuk menyelami lebih dalam dunia 'mereka'. Menyingkap tabir tentang masa lalu 'mereka'. Memutar waktu, untuk mendapatkan akhir kisah yang kita baca. Bertemu orang-orang yang tak pernah ia sangka untuk mengungkap sebuah kebenaran, dan menjadi jembatan penghubung lewat kisah yang ia ceritakan.

        

Well, tak banyak yang berubah dengan versi yang dibaca banyak orang di Kaskus. Saya kagum bagaimana sang editor merapikan isi naskah ini. Ada beberapa bagian yang membuat saya bertanya-tanya saat membaca KTKM di Kaskus. Namun dalam bentuk novel, bagian-bagian itu sudah tersusun secara rapi, dan mudah dipahami.

Saya suka gaya bahasa nya yang ringan, namun tak mengurangi efek mengerikan yang ditimbulkan. Penjabaran setiap adegan, penggambaran tempat kejadian, dan 'penampakan-penampakan' mereka diceritakan dengan jelas membuat kita lebih mudah berimajinasi membayangkan betapa menegangkannya peristiwa-peristiwa ini. Singkat dan tak berbelit-belit.

Sejujurnya, saya kaget mendapati novel ini tak lebih dari 120 halaman. Saya pikir, masih banyak cerita dan pengalaman yang harusnya bisa dibagi di novel ini. Tapi  mungkin begini lebih baik. Ada beberapa kisah yang memang seharusnya dibiarkan untuk tetap menjadi misteri.

        

Masih ada beberapa typo dan salah penyebutan nama di novel ini. Namun semuanya tak menganggu jalan cerita dan mungkin akan direvisi pada cetakan berikutnya.

Bagian-bagian menuju ending memang terasa sulit dicerna akal manusia, rumit untuk bisa membayangkan situasi cerita dan sedikit meragukan label 'kisah nyata' di bagian depan cover buku. Tapi, percaya atau tidak percaya itu urusan setiap pembaca. Yang jelas, Genta sudah menyampaikan apa yang harus disampaikan lewat buku ini.

Banyak pelajaran hidup yang dapat kita ambil. Cerita misteri tak selamanya berisi hantu. Keluarga Tak Kasat Mata terasa segar sebagai bacaan misteri. Saya sendiri percaya, bahwa kita sebagai manusia harus bisa menjaga sopan santun dan tidak mengusik hidup 'mereka' terlalu jauh. Menjaga segala perkataan dan perbuatan yang dapat menyinggung sesama manusia atau bahkan 'mereka'.

Cerita ini ditutup dengan sangat rapi. Dengan pesan moral yang masuk ke hati.

       

Sekali lagi, saya percaya bahwa di dunia ini kita tak hidup sendiri.
Entah kebetulan atau bukan, ada beberapa kejadian 'konyol' yang saya alami saat membaca cerita ini di Kaskus, sebelum memutuskan untuk mengikuti pre order, dan saat membaca novel nya :)
Eh iya. Kampung saya di Jogja... Sedikit banyak saya mengerti... Nenek saya masih  memegang teguh adat Jawa... Saya--Eh...
Sepertinya review ini harus segera diakhiri.
Wassalam.



"Perkenalkan nama saya Ibu Suminah. Saat membaca pesan ini, saya yakin akan ada banyak sosok-sosok yang muncul dari sana di sekitar kalian. Atas persetujuan Langgeng, akan saya ajak kalian melintasi ruang dan waktu untuk melihat apa yang pernah terjadi dengan diri saya, salah satu anggota keluarga tak kasat mata."