Senin, 15 Desember 2014

[ Resensi Novel ] Unplanned Love



Judul            : Unplanned Love
Pengarang    : Jenny Thalia F
Terbit            : September 2014
Penerbit        : Elex Media Komputindo

Aruna--penulis terkenal--memiliki sahabat bernama Acintya. Cintya dengan segala kesempurnaan dan kecantikannya, sedangkan Aruna harus menerima pernyataan orang-orang yang menganggap Runa adalah sidekick-nya Cintya.

Suatu saat, sahabatnya tiba-tiba menghilang seiring dengan tagihan kartu kredit dengan nominal yang cukup fantastis. Runa kelabakan, ia berusaha mencari di mana sahabatnya tersebut namun hasilnya nihil. Seakan semua itu belum cukup, seorang lelaki bernama Seta mendatanginya dan menyuruh Runa menikah denganny--sebagai akibat dari Cintya yang menjajikan pernikahan padanya namun saat ini menghilang. Jelas saja Runa menganggap Seta adalah lelaki paling waras saat ini. Ia, seorang Philophobia tentu tidak akan menerima lamaran itu. Kalaupun ia takut terhadap hal bernama cinta, setidaknya ia tidak ingin menghabiskan sepanjang hidupnya dengan pernikahan berlandaskan keterpaksaan.

Runa saat ini tengah menggarap novel romance keempatnya di bawah tekanan deadline. Saat itulah, editornya menyarankan Runa untuk berlibur--sekadar untuk menemukan summer fling dan membuat Runa bisa merasakan jatuh cinta agar tulisannya lebih bernyawa. Saat yang tepat ketika dia harus kabur dari kejaran Seta yang sepertinya kurang waras.

***

Sesuai dengan blurb di belakang bukunya, cerita ini tentang hidup Aruna--si penulis terkenal--yang memaksanya untuk mati muda. Berbagai masalah menimpanya, Cintya, sahabatnya itu tiba-tiba menghilang dari peredaran, belum lagi datang bertubi-tubi surat dari Bank tentang tagihan kartu kredit untuk Cintya dengan jumlah yang-jual-lahan-kebon-pisang-milik-kakek- pun kayaknya enggak cukup.

Dan datanglah seonggok manusia--seorang Seta, yang tiba-tiba mengajaknya nikah. Tidak sampai disitu, liburan yang disarankan oleh Rangga--editor tersayang Runa pun berubah menjadi perjalanan menuju neraka lantaran ada penguntit--si stalker tingkat dewa--Seta(n) Adhiraya. Kemanapun Runa melangkah, selalu ada Seta yang membuntutinya, dimanapun Runa bernapas, selalu ada Seta yang mendampinginya, kemanapun Runa berkeliling, selalu ada Seta--si juragan Nusantara--yang mengiringi langkahnya.

Namun, ketika dusta itu terkuak--di malam bertabur bintang, akhirnya mereka harus terpisah. Dipisahkan oleh dendam, dan trauma yang membuat keduanya didera keraguan yang menyesakkan. Dilema.
you only know you love her, when you let her go.
Itulah yang terjadi pada Seta, juga Runa, yang baru sama-sama menyadari perasaan masing-masing setelah rindu melanda.

"Ini cerita tentang cinta yang tak pernah direncanakan--kapan ia datang dan kapan ia pergi."

Dan Komentarku tentang buku ini, pertama-tama mau membahas salah satu Kekurangan buku ini adalah, enggak ada daftar isi. Mungkin terlihat enggak penting, tapi serius deh, daftar isi itu sangat dibutuhkan suatu saat, terutama seperti sekarang, waktu mau cari quote quote dari beberapa part jadi kesulitan :(
Dan selanjutnya dari jalan cerita, ngerasa kurang greget sama perasaannya Aruna yang enggak begitu dideskripsikan, maksudnya--kayak Seta--yang ditunjukkin kalau dia cemburu, waktu Daffo dan Runa jalan-jalan, terus gimana depresinya Abang Seta(n) demi mengejar Runa. Tapi kalau Runa...
kurang greget masa-masa dia jatuh cintanya, waktu mereka Travelling bareng, susah ngebayangin kapan Runa mulai menaruh hati pada Seta, kapan perasaan itu muncul, dan gimana perasaan berbunga-bunga hadir dihari-hari Runa. Juga tentang permasalahan yang dibicarakan pertama--tagihan kartu kredit Cintya--padahal udah ngebayagin tentang penyelesaiannya yang pasti bikin ngakak, secara, lapanpuluhjuta broooo... 





Tapi diluar segala kekurangannya, buku ini punya buanyaakkk Kelebihan salah satunya, ceritanya dengan versi yang lebih-sangat-amat rapi daripada yang di dunia orange (Hei! Aku follower setia akun Wattpadmu dan betewe belom dipolbek KaJen :( Akucyedihh )
Dan dari segi Penokohan, KaJen pinter binggoww gabungin dua karekter unik--Pengacara dan Penulis-- yang keduanya sama-sama pinter mengolah kata, sama-sama pinter menuangkan argumen, kalo yang satu dikeluarkan lewat berlembar-lembar kertas yang satu dikeluarkan dengan segala Persidangannya. Jadi jelas, kalo mereka adu bacot, dua-duanya sama kuat, sama-sama enggak mau kalah, sama-sama punya argumen yang tepat dan bisa dipertahankan. Udah dah. Tuh adu bacot kagak kelar-kelar sampai negara api menyerang.
Terus tentang Cintya, yang menurutku unik. Kenapa? Karena sampe separuh lebih halaman, dia enggak nongol-nongol juga, tapi namanya selalu disebut-sebut, bikin kita yang baca jadi tahu karekternya beserta segala kesempurnaannya walaupun tuh bocahnya masih ngumpet di Papua.

Terus tentang Alur cerita yang membawa kita pada perjalanan-perjalanan tak terduga Runa maupun Seta. Lagi-lagi, lebih dari setengah halamannya menceritakan tentang kejar-kejaran Seta dan Runa ke berbagai penjuru di Indonesia yang cukup menghibur, karena dunia serasa milik mereka berdua. Iya, emang milik mereka berdua. Berbagai daerah di Indonesia udah mereka kunjungi, berasa honeymoon banget gaksih? Wuakakakk sebenernya cuma iri doang sih, kan mau juga diajak jalan bareng Abang Seta.

Dan soal Ending yang sangat memuaskan antara Seta dan Runa yang walaupun udah jadian, tapi kayaknya jauh sekali dari kata romantis. Tapi tenang, berantemnya mereka masih unyu-unyu, kok. Kalo pertama ketemu berantemnya pake urat, sekarang pake cengiran dan cekikikan. Hueee... Lagi-lagi iri ama Runa :(
Tapi ending nasib percintaan Andra-Cintya masih gantung yak :( kali Andra bakal diterima kalo mau ngelunasin tuh utang kartu kredit yak. HUAHAA *TawaJahat *PukPukBangAndra.

Secara Keseluruhan buku ini sangat memuaskan dan menghibur. Konfliknya terasa dan Gaya Bahasa nya santai  juga enggak terlalu baku, jadi kita bisa menikmati setiap momen yang dialami para tokoh tanpa membuka KBBI (Buka kamus mah kalo lagi ngomong sama Seta aja)

Request khusus untuk KaJen! Bikinin cerita nya Mas Reivan dong! Ciaattt, aku terseponaaaaa--Terpesona pada dirinya yang walaupn udah kena amuk Seta, kecipratan ludah Seta yang kalo ngomel kayak beruang laper, tapi dia tetep ketwa tiwi kayak gapunya dosa, dan menganggap masalah yang dihadapi Seta itu enteng, kecil kayak biji kuaci yang menciut(?). Kayaknya dia emang gapunya beban hidup atau gimana coba tuh orang.

Kayaknya resensi ini harus diakhiri sebelum aku nambah dosa karena iri berat sama Runa :(
Terima Kasih telah membaca dan... Oh ya! Salah satu alasanku bikin review ini karena... Deadline nya itu--19 Desember--adalah tepat 14 tahun aku brojol di dunia ini *MasihKecildanPolosQaqaaaa

Bye byeee...
Wasalam.


"Kisah ini kupersembahkan untuk semua manusia yang punya cinta dihatinya,  yang punya dendam sebagai tameng hidupnya dan yang tak percaya bahwa cinta adalah salah satu bagian dari hidup manusia.  Terkadang,  mencintai adalah salah satu hal yang paling mengerikan,  itu hanya karena kau tak pernah siap dengan rasa sakit dan kehilangan."